Interview

Memang ada yang Mendesain,……

Proses demokratisasi di Indonesia hingga kini masih di anggap kurang merata, baik pada level diskursus maupun praktek lapangan. Di level diskursif dan praktik, demokratisasi hanya menjadi konsumsi kelompok tertentu saja, bukan menjadi ruang kontestasi pemikiran, dan pilihan. Kendati demikian, praktek demokratisasi di Indonesia nyata-nyata menisbatkan kepentingan kelompok tertentu. Padahal, merujuk pada konsepsi demokratisasi ialah di dorong dari seluruh lini, kelompok, dan kepentingan demi kepentingan bersama.
Berangkat dari itu, keterlibatan siswa dalam proses politik (political education) disini begitu jauh dari harapan. Artinya, kelompok masyarakat ini, di jauhkan atau menjauhkan dirinya dari soal politik. Sebuah persoalan yang menjadi poros nasib kehidupan masyarakat selanjutnya. Demikian wawancara redaksi Konsis dengan ………….

Redaksi : Apakah kamu tahu soal proses demokratisasi yang berjalan selama ini?

Joko : yang selama ini saya ketahui hanya pilkada, pilpres, dan pemilu partai. Cuma hanya itu. Selebihnya, soal yang lainnya saya kurang begitu memahami, apalagi mengetahui secara jelasnya. Wong  kita Cuma hanya di suruh sekolah dan belajar yang rajin saja kok, tidak lebih.

Redaksi : Bagaimana tanggapannya tentang situasi bangsa saat ini?

Kayaknya pasca reformasi keadaan masih belum membaik, baik keadaan politik, ekonomi maupun social. Sementara itu, proses politik hanya di kehendaki oleh kelompok tertentu dan tidak sama sekali merembes sampai lapisan bawah sekalipun. Semisal orang kayak kita, sama sekali tidak di libatkan dalam proses tersebut. Bahkan kita sama sekali tidak tahu apa-apa. ………

Redaksi : Maksudnya?

Iya kita tidak tahu sama sekali,…..tidak kayak mahasiswa, mereka mengetahui dan mengekspresikan ketidaksepakatannya dengan aksi demontrasi. Lah kita?…

Redaksi : Menurut anda bagaimana?

Ada pihak yang memang menghendaki itu. Kalau anak SMU tidak perlu ikut-ikutan. Padahal, kita kan generasi berikutnya setelah para tua tiada. Kalau ternyata kita di belenggu kayak ini, artinya ada upaya memutus mata rantai penerus bangsa ini.

Redaksi : Lebih dari itu, kayaknya Negara memang sengaja menghendaki itu?

Jelas. Mereka menghadapi mahasiswa aja sudah kewalahan, apalagi nantinya di tambah anak SMU. Saya tidak habis piker, betapa bingungnya pemerintah menghadapi generasi muda kritis bangsa ini.

Redaksi : Bearti ada proses pembungkaman dong?

Tadi sudah saya sampaikan. Ini ada upaya sistematis untuk membungkam suara muda, kususnya anak SMU. Lagian, kemunculan istilah anak sekolah tidak perlu ngurusi persoalan politik itu sebenarnya dari mana sich? Kan dari para orang pintar, sementara orang pintar tersebut telah lama mengenyam sekolah. Nah dari sekolah ini penanaman ideology oleh Negara berlangsung secara sistematis dan berjangka.
Kalau kita melihat dipelbagai Negara di Asia, misalnya Korea. Anak SMU di sana ikut berpartisipasi menolak import daging dari AS. Itu artinya, di Korea anak SMU sudah memiliki kesadara politik yang jauh dari pada di Indonesia. Mereka bebas melakukan sesuatu yang memang berangkat dari pemikiran kritis, dan untuk yang terbaik bagi negaranya. Kita? Ha,…ha,….ha,…..(sambil Cengengesan)

Redaksi : Apa yang perlu dilakukan saat ini?
Bangsa yang maju ialah bisa di ukur dari kualitas hidup mereka. Baik manakala di tinjau dari aspek kualitas politik, ekonomi, budaya, ataupun agama. Itu catatannya.  Kalau soal apa yang di lakukan, semua kan punya wewenang memikirkan keadaan ini. Yang jelas bagi saya, perlu ada perubahan pola pikir sektoral  bahwa demokrasi dan tetk bengeknya adalah urusan orang tua, kelompok muda harus di libatkan dong…..

Tinggalkan komentar