OSIS

Aktive & Inovatif (OSIS)
Menggagas Reading School.., Siapa Takut ?!

Menjadi negara berperadaban, meniscayakan masyarakannya berpengetahuan. Masyarakat berpengetahuan merupakan cerminan masyarakat yang dinamis. Itu semua bisa terwujud jika masyarakatnya gemar membaca, terlebih membaca buku. Namun betapapun besarnya manfaat dari membaca buku, jika masyarakatnya kurang memiliki kesadaran tentang pentingnya membaca buku, terciptanya suatu peradaban yang lebih baik menjadi suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Membaca buku menjadi unsur penting dalam mengantarkan masyarakat berpengetahuan dan berwawasan. Membaca buku adalah usaha sadar untuk mencermati dan memahami realitas. Buku merupakan instrumen penting yang dapat dimanfaatkan untuk menjembatani transformasi informasi kepada masyarakat melalui data yang terkandung di dalamnya. Lebih dari itu, selain berfungsi sebagai media transformasi dan media perubahan, buku meniscayakan abstraksi gagasan, ide dan pengetahuan yang pada akhirnya dapat diinternalisasi oleh pada pembaca.

Akhir-akhir ini, berdasarkan hasil survei lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education Society and Cultural Organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia. Kenyataan ini begitu menghawatirkan. Lebih ironis lagi, problem minimnya minat baca masyarakat terjadi di tengah-tengah makin menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan, mulai play group sampai perguruan tinggi, mulai dari yang terkonsentrasi pada penanaman skill sampai pada penggemblengan nilai keagamaan. Keberadaan sekolah atau lembaga pendidikan yang begitu banyak jumlahnya ternyata tidak berbanding lurus dnegan kebiasaan masyarakat untuk membudayakan baca buku dalam kehidupan sehari-hari.

Hal  tersebut bertolak belakang dengan Jepang, Amerika, Jerman, dan negara maju lainnya yang masyarakatnya punya tradisi membaca buku, begitu pesat peradabannya. Masyarakat negara tersebut sudah menjadikan membaca dan buku sebagai sahabat yang menemani mereka kemana pun mereka pergi. Kebiasaan membaca buku mereka lakukan ketika antri membeli karcis, menunggu kereta api, di dalam bus, dan di tengah-tengah hiruk pikuk aktifitas sehari-hari. Masyarakat di negara-negara tersebut manfaatkan waktu dengan kegiatan produktif yakni membaca buku. Di Indonesia kebiasaan ini belum tampak. Kalaupun ada, jumlah warga masyarakat yang membiasakan meluangkan waktu untuk membaca masih sangat minim sekali. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan baru-baru ini, berdasarkan tes yang dilakukan oleh Trends In International Mathematics and Sciences Study (TIMSS) tahun 2003, menunjukkan bahwa para siswa SLTP, menempati posisi ke 34, jauh di bawah Singapura dan Malaysia yang menempati urutan pertama dan ke sepuluh, pada penilaian kemampuan matematika. Hal yang tidak jauh berbeda, terjadi pula pada nilai penguasaan atas ilmu pengetahuan.

Kemudian, dilaporkan pula tes yang diselenggarakan dibawah payung International Association for Evaluation of Educational Achievement (IEA) ini, kembali menempatkan siswa Indonesia pada urutan ke 36 dibawah Mesir dan Palestina yang berada satu peringkat di atasnya. Sedangkan negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia masih menempati nomor pertama dan ke dua puluh dari 50 negara yang ditelaah.
Realitas ini menjadi semakin lengkap, apabila kita kaitkan dengan laporan dari UNDP beberapa tahun lalu tentang study aktualnya. Dalam laporannya, “Man Development Report 2004”, dinyatakan bahwa angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia mencapai 12,1%. Ini artinya dari setiap 100 orang Indonesia dewasa yang berusia 15 keatas, ada 12 orang yang tidak bisa membaca. Angka ini relatif jauh lebih tinggi apabila kita bandingkan dengan negara-negara lain, seperti Thailand (7,4%), Brunei Darussalam (6,1%) dan Jepang (0,0%). Kondisi yang sangat memprihatinkan ini, pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari jumlah ketersediaan buku yang dapat diakses publik secara mudah dan relatif murah maupun peranan dan eksistensi perpustakaan sebagai salah satu instrumen bagi perkembangan perbukuan nasional.

Minimnya minat baca masyarakat Indonesia dalam satu asumsi disebutkan bahwa hal tersebut terjadi karena rendahnya daya buku masyarakat. Rendahnya daya buyku masyarkat, disebabkan oleh keterbatasan pendapatan masyarakat. alih-alih untuk beli buku, sekedar bertahan untuk mencukupi makan sehari-hari saja sudah cukup. Namun, asumsi demikian seyogyanya tidak dijadikan sebagai satu-satunya pemicu atas minimnya minat baca masyarkat indonesia.

Fakta diatas, jika ditelaah secara mendalam cukup memprihatinkan. Kemiskinan struktural, secara hierarkis bisa juga disebabkan oleh lemahnya minat baca masyarakat. Karena tidak bisa membaca, akhirnya masyarakat memilih pekerjaan seadanya. Karena pekerjaan tersebut tidap pasti, mengakibatkan pendapatannya pun tidak pasti. Jadi dalam sehari, kadang mendapat penghasilan dan terkadang tidak mendapat penghasilan. Kondisi ini, kemudian diikuti turun temurun sampai anak cucu mereka.
Lebih jauh lagi disebutkan bahwa ada beberapa faktor yang bisa dijadikan penyebab lemahnya minat baca buku masyarakat Indonesia. Pertama, keluarga. Keluarga terutama orang tua berperan penting dalam menumbuhkan kegemaran membaca buku anak-anaknya. Untuk menjadikan anak memiliki kegemaran membaca, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pepatah Inggris mengatakan we first make our habits, then our habits make us. Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Artinya, bila orang tua ingin anaknya mempunyai kegemaran membaca buku, maka membaca buku perlu dibiasakan sejak kecil, disamping perlunya keteladanan dari orang tua sendiri. Kedua, saat ini biaya pendidikan kian membumbung. Hanya kalangan tertentu saja yang dapat menikmati pendidikan formal sampai jenjang perguruan tinggi. Bagi mereka yang belum beruntung dari aspek ekonomi, sehingga tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, mestinya tidak berkecil hati. Membaca buku menjadi alternatif untuk bisa menjadi terpelajar layaknya orang yang mengikuti pendidikan formal. Ketiga, political well pemerintah. Dengan adanya realitas tersebut, nyatanya pemerintah tidak melakukan upaya penanggulangan lewat program-program yang lebih kongkrit yang menyentuh level masyarakat yang paling bawah. Pemerintah kurang memberi perhatian pada wilayah ini, dan sepertinya lebih tertarik berkonsentrasi pada masalah-masalah regulasi.

Guna menjembati penanganan problem minimnya minat baca buku, beberapa langkah strategis kiranya dapat dilakukan, antara lain; pertama memperbanyak jumlah perpustakaan, baik perpustakaan yang menetap maupun perpustakaan keliling. Keberadaan perpustkaan menjadi penting untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses buku. Ke dua Menambah tempat persewaan buku dengan harga terjangkau oleh kantong masyarakat umum. Prasyarat tersebut dapat dilakukan oleh pemerintah dan swasta dengan saling bergandengtangan merealisasikan pendirian perpustkaan publik dan tempat persewaan buku. Prasyarat ke tiga bagi masyarakat sendiri seyogyanya dapat berpikir ekonomis dengan berusaha menyisihkan sedikit rupiah guna membeli buku. Membudayakan membaca buku tidak bisa menunggu orang lain atau pemerintah menyediakan fasilitas gratis. Kepada masyarakat tetap diharuskan dapat mengawali pengadaan buku secara mandiri. Ke empat, menggugah kesadaran masyarakat bahwa membaca buku tidaklah merupakan monopoli pekerjaan guru, pejabat, siswa atau mahasiswa. Harus ditanamkan kepada mereka bahwa membaca buku dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun berada.

Akan sangat baik sekali apabila masyarakat mau menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Rumah ibarat sekolah, lingkungan ibarat perpustakaan yang tiada habis untuk digali sumber pengetahuan di dalamnya. Dengan demikian, budaya membaca buku akan dapat terbentuk bila mana ada politicall will pemerintah untuk menyediakan perpustakaan publik dan didukung pula oleh kesadaran masyarakat sendiri akan pentingnya membaca buku. Selanjutnya, gagasan reading school tidak hanya marak digalakkan di sekolah dan perguruan tinggi, akan tetapi masyarakat umum sudah mampu menjadikan rumah dan lingkungannya sebagai laboratorium dan perpustakaan untuk memulai membiasakan budaya membaca. Dan. Reading school tidak secara kaku dimaknai sebagai budaya membaca buku di sekolah, tapi dimanapun berada selagi bisa. Akhirnya, problem minim budaya baca oleh masyarakat Indonesia dapat diminimalisir.

OSIS dan Kepemimpinan

Saya Mellinda Harry Sartika salah satu siswa di SMU Kartika IV-3 Surabaya. Disini saya akan bercerita tentang OSIS dan kepemimpinan di sekolahku. Saya akan memulai ceritanya pada waktu LDKS (latihan dasar kepemimpinan siswa) sampai proses menjabat ketua OSIS dan melaksanakan keiatan-kegiatan yang ada di sekolah. Sebelum LDKS pasti ada PRA LDKS yang dilaksanakan 3 kalis etiap minggu menjelang kegiatan LDKS.

Pada minggu pertama Pra LDKS, kita semua para calon anggota OSIS periode 2007-2008 mengisi biodata diri kemudian memperkenalkan diri satu persatu di hadapan semua peserta lainnya. Hanya saja, saya tidak merasa nervous karena sebelumnya sudah aktif di OSIS sejak saya duduk dibangku SMP. Setelah memperkenalkan diri kita dibagi beberapa kelompok yang disebut dengan kelompok “KOWAD” dan “KOMPI”. Lalu tiap kelompok berjalan kaki mengelilingi daerah sekolah dan lapangan Kodam Brawijaya yang harus melewati pasar Wonokitri dulu sambil bernyanyi  “Disini senang disana senang”.  Semua orang di pasar pada melihat kita yang seperti orang gila, selesai jalan kaki kembali ke sekolah. Kita makan dan para senior berpura-pura mau muntah di depan kita sehingga kita merasa jijik dan tidak mau makan. Tapi tenang saja, saya tidak terpengaruh sama senior jadi tetap saya melanjutkan makan siang. Bagi adik kelasku, banyak yang mau muntah gara-gara ulah senior, kemudian setelah makan siang kita diperbolehkan pulang kerumah masing-masing.

Minggu kedua saya tidak hadir karena sakit. Tapi minggu ke 3 saya hadir dan kegiatannya kita di kerjain habis-habisan sama senior. Mulai dari disuruh menyapa orang lewat yang tidak kita kenal dengan ucapan “MERDEKA” sampai ada 10 orang yang membalas sapaan kita. Kemudian kita dikumpulkan baris ditengah-tengah lapangan basket sekolah tepat pukul 12.00 WIB. Lalu kita disuruh tidur terlentang ditengah-tengah lapangan basket selama kurang lebih 20 menit sambil di marah-marahin   senior. Untung tidak ada yang pingsan waktu itu, dalam hati pun saya berkata “Kapan sech selesainya, lama banget, udah panas dimarahi, tidur terlentang dibawah terik sinar matahari kan capek, seniornya nyebelin banget”. Setelah selesai tidur terlentang, karena kita cinta tanah air, senior menyuruh kita menyium tanah sebagai bukti cinta tanah air. Setelah itu, kegiatan berakhir dan kita harus mempersiapkan diri untuk kegiatan LDKS-nya.

Setelah Pra LDKS berakhir, minggu depannya kita semua para calon OSIS berangkat LDKS di Pacet, tepatnya didekat di daerah pemandian air panas. Namun sebelum berangkat kita kumpul di sekolah di dampingi oleh orang tua untuk acara upacara pemberangkatan. Selesai upacara tiap-tiap kelompok baris untuk menaiki truck tentara yang kita pakai untuk menuju ketempat LDKS. Disini saya menjadi ketua kelompok dari KOWAD “A” yang memimpin anggota kelompoknya agar menjadi yang terbaik dari kelompok-kelompok lainnya. Selain bapak dan ibu guru pendamping kita juga didampingi oleh bapak-bapak tentara dari kodam Brawijaya yang biasa di sebut Provost. Kemudian kita semua berangkat dengan menaiki 4 kendaraan turcknya tentara, tapi asyik juga naik truck!!!
Akhirnya kita sampai tempat tujuan dengan selamat lalu kita baris antri cuci muka pakai Lumpur yang sudah disediakan oleh para senior dan bapak-bapak tentara, tangan juga dikasih Lumpur semua, karena ini memang sudah tradisi sejak dahulu dari sekolah. Setelah itu kita menuju menuju tenda menaruh barang-barang bawaan kita, terus makan siang bersama kemudian ada materi jelajah malam yang membutuhkan keberanian yang kuat. Dan, materi ini dilaksanakan di Hutan dan tiap peserta Cuma membawa satu lilin menuju pos-pos. Tiap-tiap pos ada 2 senior yang menjaga agar kita berhenti dan diberi pertanyaan-pertanyaan kemudian diberitahu arah jalan menuju pos selanjutnya. Ditengah perjalanan ada salah satu tentara yang menjadi hantu posong serem banget pokoknya. Tapi untung tidak ada yang pingsan saat melihat hantunya hanya perasaan kaget saja. Sesudah jelajah malam, kita istirahat ditenda.

Hari ke 2 setelah shalat subuh, kita senam pagi untuk menyegarkan tubuh dipagi hari yang cerah dengan udaranya yang sejuk. Lalu kita memungut sampah yang ada disekitar kita agar dibuang ditempat sampah. Kemudian makan pagi dan melanjutkan kegiatan lainnya seperti materi-materi, permaianan haling rintang yang dipandu oleh tentaranya, mulai dari permainan yang membutuhkan keseimbangan badan, membutuhkan kelincahan dan kesabaran sampai permaianan merayap melewati Lumpur. Selain itu kita juga belajar disilin waktu, bertanggung jawab dan lain-lain hingga menjelang malamam menuju acara berikutnya yaitu malam kesenian. Keesokan harinya ada pengukuhan di air terjun kemudian bersiap-siap balik ke sekolah SMA kartika IV-3 Surabaya, sebelum balik kita harus membantu bapak dan ibu guru membereskan semua barang bawaannya seperti peralatan memasak, obat-obatan dan lainnya. Tidak ketinggalan juga pastinya kita juga membereskan tenda-tenda. Setelah itu kita berangkat balik ke Surabaya dengan raut muka kecapean karena selama 3 hari 2 malam kita melaksanakan berbagai kegiatan tanpa henti, meskipun ada waktu istirahat tapi tidak cukup untuk istirahat karena di beri kurang lebih 1 jam waktu istirahatnya.

Sehingga pada waktu perjalanan balik ke Surabaya anak ketiduran semua karena sangat capek, setelah tiba di sekolah kami berkumpul dahulu di Aula sekolah untuk melaksanakan upacara penutuan LDKS SMA Kartika IV-3 Surabaya. Pasca itu, saya bersama teman-teman mengucapkan banyak terima kasih dan minta maaf terhadap para kakak-kakak senior. Karena selama 1 tahun saya bekerja menjadi OSIS periode tahun 2006-2007 pernah melakukan kesalahan, sehingga senior marah dan jengkel kepada kami. Demikian sebaliknya, para kakak senior juga meminta maaf kepada kami, dan kami semua merasa terharu bahkan sampai manangis.

Setelah LDKS terlaksana dengan baik dan lancer, langsung ada pemilihan KetOs (Ketua OSIS), sebelum pemilihan berlangsung harus ada calon kandidat ketua dulu baru diadakan pemilihan. Nah,……disini harus ada yang mencalonkan ketua OSIS. Awalnya saya ragu, namun karena dukungan beberapa guru dan Wakasek dan teman-teman, akhirnya saya memberanikan mencalonkan. Ada 8 calon yang ingin menjadi ketua OSIS dan harus melewati beberapa interview atau diwawancarai oleh kakak senior dan 2 wakil kepala sekolah agar dari 8 calon menjadi 3 calon kandidat ketua OSIS. Alhamdulillah saya termasuk dari 8 calon menjadi 3 calon tersebut.
Kemudian semua anggota OSIS dan semua siswa-sisiwi perwakilan kelas di kumpulkan di Aula SMA Kartika IV-3 Surabaya untuk mengadakan pemilihan ketua, tapi harus mendengarkan visi-misi kandidat agar bisa menentukan pilihan siapa yang pantas menjadi ketua OSIS periode 2007-2008. sambil belajar berdemokrasi yaitu kepemimpinan siswa oleh siswa, dari siswa yang cara pemilihanya di hitung berdasarkan votting. Sebelumnya ada beberapa siswa-siswi dan senior yang bertanya kepada 3 calon kandidat tentang bagaimana bertanggung jawab atas visi-misi apabila tidak terlaksana dengan baik. Lalu para siswa-siswi diperbolehkan hanya menulis satu nama calon yang mereka percaya bisa menjadi ketua OSIS berikutnya, setelah hasil votting dihitung yang mendapat nilai tertinggi adalah nama saya. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih terhadap Allah SWT dan teman-teman saya yang mendukung sehingga saya bisa menjadi ketua OSIS. Karena tanpa dukungan dari orang tua dan teman-teman saya tidak akan bisa menjabat ketua OSIS, saya akan berusaha melakukan yang terbaik agar sekolah dan teman-teman tidak merasa kecewa karena sudah memilih saya.

Setelah menjadi ketua OSIS event pertama yang saya kerjakan bersama teman-teman OSIS lainnya mengikuti Deteksi Mading 2 K7 yang diadakan oleh Jawa Pos yang setiap tahunnya selalu diadakan yang diikuti oleh semua SMP dan SMA se-Gerbang Kertasusila. Kami anak-anak OSIS mengikuti semua lomba-lomba yang diadakan dan kami membuat madding 3D dan 2 . tidak ketinggalan juga madding mini Relaxa, juga ikut memodifikasi sepatu Converse. Pada tahap pertama membuat madding 3 D dan 2 D diperlukan semangat yang luar biasa atau semangat 45. kami harus mengorbankan waktu yang seharusnya buat keluarga dan teman-teman kami manfaatkan untuk membuat madding. Julai dari membuat konsep sampai cara pembuatannya, ribet banget pokonya, kita harus ujin tidak mengikuti pelajaran sekolah pada jam-jam tertentu atau memanfaatkan jamkososng pelajaran.

Bahkan kita pernah di tegur oleh salah satu guru sekolah karena sering meninggalkan kelas. Lalu saya dan teman-teman mengejar pelajaran yang tertinggal agar nilai-nilai kita tetap stabil meskipun kami banyak kegiatan yang harus ijin pada jam pelajaran. Sayan sendiri juga pernah dapat teguran dari orang tua karena lebih sering pulang telat sampai jam 8 atau jam 9 malam, hanya untuk mengerjakan madding di sekolah. Selama 2 minggu kami bisa menyelesaikan madding 3 D dan 2 D dan kami langsung kumpulkan di Graha Pena Jawa Pos. kita juga bolak-balik sekolah Graha Pena agar bisa memenuhi semua persyarakatan biar bisa di pamerkan di SSCC PTC (Pakuwon Trade Centre).
Setelah diskusi madding 2K7 saya dikirim mewakili sekolah mengikuti diklatl OSIS Se-Surabaya yang d adakan oleh Diknas Pendidikan di Hotel Vanda Trawas, selama 3 hari. Disana selainh diberi materi tentang kepemimpinan pada hari pertama juga diadakannya Out Bond yang dipandu oleh kakak-kakak sentral yang di sewa oleh Diknas, semua peserta di bagi beberapa kelompok dan pada kegiatan ni dibutuhkan kerjasama yang baik dari tiap anggita kelompok dan juga kekompakan deari semua anggota kelompok. Pada malam harinya ada materi yang di sampaikan kepada peserta diklat OSIS, langsung acara malam kesenian. Hari ke 2 hampir sama dengan kegiatan hari pertama, bedanya pada malam harinya kepala dinas datang dan beliau di sambut dengan meriah dan beliau berdialog bersama mengenai pendidikan dan system pendidikan di Surabaya, mengenai anak yang tidak mampu sekolah karena factor ekonomi dan lain sebagainya.

Selesai berdialog adalah acara CSTC (central spiritual training). Semua lampu dimatikan yang ada diruangan Hall atau ruangan dimana semua kita melaksanakan acara CST.  Semua peserta di suruh merenung tentang kesalahan kita kepada orang tua yang pernah kita lakukan dan membanyangkan apabila kedua orang tua kita meninggal apa yang kita lakukan jika jasad keduanya merasa kesakitan, hancur dan hanya tinggal tulang. Kemudian kita di putarkan film tentang kematian dan jasad orang mati yang berada di dalam liang kubur. Kami semua pun menangis dan menyesali perbuatan yang pernah kita lakukan hampir setengah dari kurang lebih 340 peserta yang pingsan pada saat itu.
Selesai acara itu saya langsung menelpon orang tua saya untuk meminta maaf apabila selama ini saya pernah berbuat salah sama mereka, saya pun juga ikut menangis saat itu dan keesok harinya semua peserta OSIS se-Surabaya membereskan semua barang untuk kembali ke Surabaya dan berkumpul kembali dengan keluarga juga memperbaiki semua kesalahan yang pernah kita lakukan dan memberikan yang terbaik buat orang tua kita.

Setelah mengikuti kegiatan OSIS Se-Surabaya saya merasa senang sekali selain menambah pengalaman. Pengetahuan kita juga dapat dari teman sekolah lain yang ada di Surabaya. Event selanjutnya di sekolah adalah Idul Adha, maulid Nabi kemudian di sekolah mengadkan tour ke jogja yang dimana diadakan oleh guru sejarah di sekolah SMA Kartika IV-3 Surabaya ada sedikit pemaksaan dan sejenis ancaman apabila ada yang tidak ikut maka nilai pelajaran sejarah tidak ada tambahan nilai bagi yang ikut di beri nilai tambahan.
Akhirnya tour ke Jogja terlaksana meskipun banyak siswa-siswi yang tidak ikut serta dalam tour ini setelah pulang tour ternyata ada masalah, ada informasi ancaman terhadap siswa yang tidak ikut. Berupa, nilainya pada bidang studi sejarah akan di kurangi. Bapak pengurus yayasan marah terhadap guru yang bersangkutan. Kemudian salah satu Wakasek minta keterangan dari saya terhadap masalah. Awalnya saya takut memberi keterangan karena takut kepada bapak Wakasek, saya pun minta jaminan apabila nama saya ikut dalam keterangan ini dan jaminanya adalah bapak Wakasek mempertaruhkan jabatan demi melindungi saya yang akan memberikan kjeterangan tersebut. Saya pun memberi keterangan yang sebenarnya tentang kebenaran masalah tersebut, dan pada akhirnya masalah ini bisa di selesaikan dengan baik agar tidak terulang kembali pada tiap tahunnya, karena kegiatan ini setiap tahun selalu di adakan untuk berkunjung ke tempat-tempat yang bersejarah.

Ternyata yang punya masalah tidak hanya pada guru di dalam organisasi pun ada masalah seperti yang saya alami selama saya menjadi pemimpin lewat OSIS di sekolah. Dari adanya perbedaan pendapat antar anggota OSISI, perbedaan pendapat Wakasek kesiswaan yang sangat pelit dan tidak pernah transparan terhadapap anggaran setiap kegiatannya. Saya pun juga harus mencari solusi tentang masalah ini dan yang membuat saya lebih bingun wakasek yang sekarang tidak memperbolehkan adanya OPEN AIR, padahal, OPEN AIR adalah merupakan suatu wadah para siswa-siswi utnuk berekspresi dalam bidang seni musik dan sebagai bentuk priomosi sekolah juga.
Masalah ini kta Handle aja dul tapi kesepakatan dari teman-teman OSS untuk tetap berusaha agar OPEN AIR tahun ini bisa terlaksana, wakasek sekarang lebih pelit beda dengan wakasek tahun kemartin lebih transparan dan pengertian dengan keinginan siswa-siswinya. Kegiatan selanjutnya adalah saya dikirim mewakili peserrta dari Surabaya dari 4 perwakilan Surabaya mengikuti pelathan pengenalan purbakala se-Jawa Timur yang diadakan oleh dinas P & K. selama 3 hari di asrama haji. Dalam kegiatan ini selain kita bisa mengenal para pelajar dari luar kota kita juga di beri materi tentang peninggalan sejarah dan kebudayaannya. Kita juga diajak keliling ketempat-tempat bersejarah dan peninggalannya, yaitu candi tikus, pusat indormasi majapahit (PIM), museum empu tantular, dan lain-lain. Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali bagi saya, banyak hal yang bisa saya pelajari dengan mengikuti hal-hal atau kegiatan kegiatan seperti ini.

Setelah itu, di sekolah setiap tahun ada kegiatan MCK “Madding Championship In Kartika” yang melibatkan kelas X dan XI untuk memperebutkan piala bergilir, tetapi bapak Wakasek tidak mengijinkan diadakan kegiatan ini karena dananya tidak ada. Padahal setiap tahun ada dong anggaran yang di bagi-bagi untuk setiap kegiatanya yang ada di sekolah dan jadwalnaya, alasannya mengganggu ujian kelas tiga. Akhirnya kita tunda kegiatannya sampai ada waktu kosong yang bisa di isi dengan kegiatan MCK ini.
Sudah banyak sekali kegiatan yang saya lakukan ternyata masih ada kegiatan lagi yaitu menjadi sekolah demokrasi yang di adakan oleh Inspekd. Dan wisata parleman dan terdiri kurang lebih 85 siswa-siswi se-Surabaya dan sidoarjo. Pada hari pertama acara pembukaan memperkenalkan diri pada tiap-tiap peserta dan para panitia. Pada hari kedua, disisi dengan materi-meateri yang salah satu pembicaranya adalah Wawali Arif Afandi selain ada materi-materi juga ada permaianan dari semua peserta di bagi menjadi 2 kelompok untuk memindahkan gelas berisi air yang dengan beralaskan kain, air yag ada di gelas tidak boleh tumpah. Selesai permaianan kita kembali ke kamar masing-masing utnuk membersihkan diri, karena apa dari pagi hari sampai sore hari beraktifitas. Apda hari itu saya berulang tahun teman-teman yang saya kamar saya dan teman yang dari sekolah lain mengguyur badan saya pakai air minum. Setelah jam istirahan selesai pada materi berikutnya pada saat saya masuk ruang forum semua peserta mengucapkan ulang tahun sayang ke 17 lewat lagu Jamrud yang selamat ulang tahun, ini adalah kenangan yang tidak akan saya lupakan karena di sini kita juga di beri pelajaran berdemokrasi, menjadi seorang pemimpin yang baik banyak banget dech yang diberikan kepada kami materi-materinya.
Pada hari ketiga, kita wisata parlemen menghadiri sidang paripurna ke 2 yang membahas tentang penataan pasar tradisional dan pasar modern. Selama sidang berlangsung ternyata ada salah satu fraksi PKB yang pada awalnya adu mulut menjadi adu fisik, bertengkar pada saat sidang berlangsung itu bukan hal patut yang di contoh rakyat. Seharusnya mereka malu di lihat oleh para pelajar SMU, apalagi mereka wakil rakyat dan sudah dewasa perbuatannya seperti anak kecil kalau mereka merasa sudah dewasa dan patut menjadi wakil rakyat apalagi ada suatu permasalahan harus di selesaikan dengan baik, mencari solusi dengan baik juga dan menyingkirkan perasaan emosi, marah dan keegoisan dan gengsi. Hanya menggunakan pikiran yang jernih dan hati nurani bila menyelesaikan permasalahan dengan sikap yang dewasa sehingga bisa menberikan contoh yang baik bagi masyarakat, jangan mencarai sensasi dan perhatian wartawan dengan tindakan yang baik lebih baik mencari sensasi dengan tindakan yang baik.

Setelah sidang paripurna berakhir kita kembali ketempat sekolah demokrasi untuk melaksanakan RTL, kemudian acara penutupan, kami semua tidak mau berhenti sampai di sini saja, tetapi kita punya rencana untuk tetap menjalin hubungan pertemanan dan bisa melaksanakan kegiatan-kegiatan sepert yang diadakan oleh Inspekds. Suka dukanya menjadi OSIS memang banyak, tetap dari OSIS kita bisa mempunyai teman banyak pengalaman, bertambah wawasan dan pengetahuan dalam berbagai bidang selama ada yang kita lakukan dan kerjakan dengan mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang posistif itu akan bermanfaat sekali terhadap kehidupan dan masa depan kita. Memang banyak yang bilang ikut OSIS itu tidak menyenangkan mereka yang beranggapan sepeti itu salah. Karena mereka hanya bisa mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang tidak berguna seperti Narkoba, Minuman Keras, Free Seks. Apalagi kita masih menjadi pelajar.

Masa SMU memang masa paling indah tapi akan lebih indah bila kita mengisinya dengan hal-hal atau kegiatan yang positif dan bermanfaat tidak hanya sekolah, duduk di kelas. Mendengarkan pelajaran dan pulang. Karena dari OSIS saya bisa belajar berorganisasi, belajar berdemorkasi dan juga belajar menjadi seorang pemimpin dan punya banyak pengalaman.

Satu tanggapan

18 01 2009
dhienda

Seru !

Tinggalkan komentar