Kesan Siswa Tentang Sekolah Demokrasi Dan Wisata Parlemen
Kegiatan sekolah demokrasi dan wisata parlemen oleh INSPEKD Jawa Timur dilaksanakan pada beberapa yang lalu, bertempat di gedung dinas sosial jawa timur. sekolah demokrasi dan wisata parlemen berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Diikuti oleh hampir seluruh perwakilan pengurus OSIS di sekolah SMA/MA/SMK Surabaya dan Sidoarjo. Selama tiga hari, kegiatan sekolah demokrasi diisi oleh narasumber yang berkompeten. meski berlangsung dalam suasana dan cuaca yang panas, sekolah demokrasi berlangsung lancar. Peserta sekolah terlihat antusias dan proaktif mengikuti acara demi acara. Gambaran itu yang ditangkap oleh redaktur KONSIS. Kegiatan berlangsung dinamis. Untuk itu, guna menginformasikan alur kegiatan sekolah demokrasi tersebut, kali ini akan disampaikan beberapa kesan oleh peserta sekolah demokrasi.
Kegiatan yang diikuti lebih dari 50 mahasiswa tersebut, akan diambil beberapa peserta sebagai perwakilan. kesempatan pertama KONSIS menghubungi Agus, seorang peserta yang terpilih sebagai koordiantor kelompok. Dalam kesempatan itu, konsis mendapati agus sedang asyik diskusi dengan kelompoknya. “sekolah demokrasi telah memberikan wawasan dan bekal pengetahuan yang pastinya akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kami di masa mendatang. khususnya saat kami berbaur dan mengabdi pada masyarakat kelak. Hanya saja, ada hal yang ingin saya tekankan bahwa penanaman pemahaman terkait dengan demokrasi perlu terus untuk ditingkatkan oleh semua peserta sekolah demokrasi. ibaratnya mahluk hidup, demokrasi senatiaasa mengalami perubahan dan perkembangan. pasang susut demokrasi menjadi hal yang wajar. namun demikian, karena ia adalah sesuatu yang hidup, maka masyarakatlah yang menghidupkan seklaigus menggerakkan semangatnya”.
Kesan lain tak kalah menarik keluar dari mulut dewi, peserta sekaligus sekretaris dalam kelompoknya. Baginya sekolah demokrasi adalah tempat reparasi pengetahuan. diibaratkan sebagai tempat reparasi karena selama tiga hari berturut-turut peserta mendapatkan “service’ pengetahuan seputar demokrasi. “sekolah demokrasi telah memberikan pendidikan melek realitas, khusunya terkait dengan demokrasi yang berkembang saat ini, tinggal sejauhmana komitmen kita untuk menindaklanjuti dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, hidup demokratis tidak melulu terfokus di dunia pemerintahan. gagasan demokrasi harus disemaisuburkan dalam laku keseharian, di rumah, di sekolah dan di lingkungan manapun kita berada”.
Sementara itu, terkait dengan perjalanan sekolah demokrasi dan wisata parlemen, Restu berpendapat bahwa peran aktif fasilitator kurang bisa dirasakan, perserta terkesan dibiarkan berjalan sendiri menyelami pengetahuan dalam kegiatan itu. “peran aktif fasilitator dibutuhkan untuk memancing dan memberikan rangsangan kepada peserta. ibaratnya latihan menyelam, kelengakapan fasilitas renang harus ada. seperti pakian renang, tabung oksigen dan perlengkapan lain. yang demikian dibutuhkan agar penyelam dapat selamat di kedalaman laut. Jadi, peran fasilitator diandaikan sebagai mediator yang mampu memberikan kelengkapan pengetahuan selain narasumber atau pemateri. Ditambahkan oleh restu, “Peran aktif faslitator akan dapat meningkatkan ghirah peserta selama kegiatan.”
Berbeda dnegan rita, dalam kesempatan itu KONSIS menyempatkan mengajukan pertanyaan seputar kesan yang didapatnya selama mengikuti sekolah demokrasi. “selama ini saya mengira bahwa kajian seputar demokrasi hanya menjadi monopoli orang dewasa, khususnya mahasiswa, politisi dan pemerhati politik kenegaraan. Tetapi di sekolah demokrasi kali ini saya menemukan betapa sebenarnya para siswapun dapat berbicara tentang demokrasi. tentunya sesuai dengan kapasitas kita sebagai siswa. Peserta yang diambil dari sekolah yang berbeda, saya angkat topi dengan panitia penyelenggara sebab tanpa kegiatan ini kami tidak akan saling kenal. semuanya memberikan warna-warni selama kegiatan. Untuk itu, saya berharap semoga tatap terjalin komunikasi antar peserta dan kepada penyelenggara agar tidak melupakan kami”. Terang siswi yang bercita-cita sebagai dokter ini.
Sekolah demokrasi adalah wadah menggodok dan mendalami kajian seputar demokrasi. itulah kalimat singkat yang disampaikan oleh andi. Sebagai salah satu peserta kegiatan, ia merasa teristimewa karena mendapatkan kesempatan yang baginya sangat langka, tidak semua siswa di sekolahnya mendapati kesempatan itu. “Sebelum mengikuti kegiatan sekolah demokrasi ini, saya merasa apatis dengan perbaikan tantanan kemasyarakatan, akan tetapi semua berubah saat saya mengikuti acara demi acara dalam sekolah demokrasi. Intinya, semua problem sosial dapat diselesaikan apabila ada peran aktif semua pihak”. wah..wah.. diplomatis banget…!!???
Apa Kata Mereka