Report SekDem

“Memperdalam Khasanah Demokrasi Bagi Pelajar”

Sejak rezim Soeharto ditumbangkan dari singgasana kekuasaan, teriakan reformasi pun lantang diperdengarkan oleh segenap elemen masyarakat. Konsekuensi dari kata reformasi tersebut adalah harus menerapkan demokrasi dalam berbagai hal. Untuk bisa mewujudkan kata demokrasi ini, maka kata demokrasi harus diajarkan dan dipraktikkan dalam kata dan tindakan nyata.

Lembaga pendidikan dipandang masyarakat sebagai tempat yang paling manjur untuk mendidik masyarakat agar bisa berperilaku demokrtis. Pelajar sebagai bagian dari masyarakat, juga tidak ketinggalan dari proses tersebut. Katanya, belajar demokrasi diusahakan sedini mungkin. Alasannya, lembaga pendidikan merupakan jembatan emas yang hampir dilalui semua elemen masyarakat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah media seperti apa yang disiapkan siswa untuk pendidikan demokrasinya ? Apakah sekolah cukup memberikan kesempatan pada siswa untuk enumbuhkembangkan sikap demokratis ? lantas, dengan cara bagaimana wawasan dan pengetahuan siswa terkait demokrasi dapat dikembangkan?

Berikut petikan kegiatan sekolah demokarasi dan wisata parlemen yang diselenggarakan oleh INSPEKD Jawa Timur, bertempat di kantor dinas sosial jawa timur dan diikuti hampir seluruh perwakilan OSIS SMA/MA/SMK, baik dari sekolah negeri maupun swasta di Surabaya dan Sidoarjo.

Mengapa OSIS yang dijadikan peserta  sekolah demokrasi, ia adalah satu-satunya lembaga formal yang ada di setiap sekolah sebagai tempat resmi bagi siswa dalam menyalurkan aspirasinya. Lembaga ini hampir dimiliki oleh semua sekolah tingkat menengah, termasuk menengah pertama (SLTP).Organisasi yang sama juga dimiliki oleh Sekolah Menegah Umum (SMU). Hingga hari ini OSIS masih menjadi organisasi formal tempat menyalurkan pendapat yang bervariasi dari kepentingan anggotangya. Melalui OSIS berbagai ragam pendapat dari para siswa bisa disalurkan.

Program sekolah demokrasi diharapkan dapat menjadi awalan dalam memperdalam khasanah dan wawasan demokrasi oleh siswa yang menjadi peserta dalam kegiatan sekolah demokrasi. Dari berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan dalam kegiatan ini seyogyanya dapat memberikan tambahan nilai, skill, serta pengetahuan tentang demokrasi.

Oleh karena itu, harapan dan optimisme peserta terbangun begitu tinggi selama mengikuti kegiatan sekolah demokrasi dan wisata parlemen. Tidak sedikit dari para peserta yang mengandaikan akan menjadi aktor demokrasi di lingkungannya. meski setiap peserta sekolah demokrasi memiliki perbedaan latar belakang sosioal-ekonomi yang berbeda, namun sejauh penulis tahu, selama berada dalam kegiatan semuanya dapat berbaur dan  berdiskusi bersama tanpa ada perasaan canggung atau sungklan. dan dapat kami simpulkan, acara sekolah demokrasi dan wisata parlemen berjalan secara efektif sebagai menebarkan nilai dan prinsip demokrasi kepada semua peserta.

Adapun alur kegiatan sekolah demokrasi dan wosata parlemen yang diselenggarakan selama tiga hari kemarin adalah:

Season I (Hari Pertama)
Pembukaan

Banyak orang bilang bahwa kesuksesan ditentukan dari awalan yang dilakukan. penyelenggara bersepekat dengan pernyatan itu, bahwa dalam rangka memberikan ulasan dasar terkait dengan motif dan latar belakang kegiatan sudah seharusnya diawali dnegan sambutan. Sambutan kegiatan berfungsi untuk membangun asumsi dasar para peserta tentang kegiatan yang akan mereka lakoni. sambutan yang berlangsung mulai pukul 19.30-21.30 ini disampaikan oleh direktur INSPEKD, Kultum Ubaidillah.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa berbicara demokrasi adalah hak semua warga, tanpa tekecuali para pelajar. kajian demokrasi bukan merupakan menu utama pejabat pemerintah atau akademisi dan pemerhati sosial. Pelajarpun, mereka memiliki kesempatan luas untuk memperdalam pengetahunnya tentang demoklrasi. Pelajar diharuskan memiliki pengetahuan dasar tentang demokrasi, karena pada satu titik mereka akan dihadapkan pada momentum demokrasi. seperti halnya ramai diberitakan akhir-akhir ini tentang momen pemilihan kepala daerah, dan pelajar tingkat SMA sederajad yang lazim disebut sebagai pemilih pemula menjadi bagian yang akan meramaikannya.

Season II (Hari Ke Dua)
Materi

Mengawali kegiatan sekolah demokrasi dan wisata parlemen, para peserta melakukan olah raga bersama. disela-sela proses peregangan otot itu, fasilitator menyampaikan bahwa menjadi aktor demokrasi harus sehat jasmanai dan rohani. Sehabis senam para peserta mempersiapkan diri untuk masuk ke forum.

Selama satu hari di hari pertama, peserta sekolah demokrasi mendapatkan pemahaman tentang beberapa budaya yang harus dilestarikan dalam rangka menumbuhkembangkan semangat demokrasi. Untuk mengawali penyampaian materi, setiap narasumber memberikan stimulus dan pancingan kepada semua peserta melalui pertanyaan yang mengarah pada sejauhmana pemahaman peserta tentang demokrasi dan sejauhmana pula mereka telah menerapkan konsep dan prinsip demokrasi mereka kembangkan  dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh bapak wakil wali kota Surabaya, Arif Afandi dan mas ayok zakariya.

Dalam kesempatan itu, narasumber menyampaikan bahwa keberhasilan demokrasi dapat dilihat dilihat dari beberapa indikasi, yakni adanya kebersamaan yang kuat dari semua unsur masyarakat dan transparansi tinggi dari pemerintah. Di hari pertama peserta sekolah demokrasi mendapatkan sunguhan materi yang menarik. Hal ini terihat dari antusiasme mereka mengikuti rangkaian acara demi acara. Ghirah peserta makin terlihat saat pelaksanaan materi role playing demokrasi. dalam materi role playing tersirat makna aplikatif dari demokrasi. jadi, demokrasi tidak hanya sebatas wacana dan retorika politik, tetapi didalamnya mensyaratkan adanya dukungan dari semua unsur agar konsep dan prinsip demokrasi dapat ditumbuhkembangkan.

Season III (Hari Ke Tiga)
Materi

Tidak jauh berbeda dengan hari pertama dan ke dua, kegiatan sekolah demokrasi berjalan lancar seiring dengan keaktifan peserta mengisi dinamika acara demi acara. Hari ke tiga adalah puncak acara. Dalam kesempatan ini para peserta diajak berkunjung ke gedung dewan perwakilan rakyat Jawa Timur. sebelum pemberangkatan, para pendamping memberikan pengantar tentang hal apa saja yang akan peserta lakukan selama berada di gedung DPR Jawa Timur. Di tengah-tengah perjalanan, kepada para peserta, fasilitator kegiatan mereview beberapa materi yang sudah diterima sebelumnya.

Report Kegiatan Wisata Parlemen
A. Hantaran

Usaha untuk mendekatkan siswa pada realitas kemasyarakatan tidak cukup dilakukan di sekola. Sekolah hanya menjadi salah satu wadah pembelajaran. Namun demikian, sebagai miniatur demokrasi, sekolah memiliki tanggungjawab untuk  menjalankan praktek pengelolaan kelembagaan dengan semangat transparansi di semua sektor disertai pula keteladanan memimpin yang baik dari kepala sekolah dan guru. Dengan demikian, pelajar secara langsung mendapatkan pengalaman untuk menjadi warga sekolah yang baik, yang nantinya diharapkan dapat menjadi bagian dari masyarakat yang baik pula.

Kegiatan sekolah demokrasi dan wisata parlemen, dilakukan atas dasar fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa, kebanyakan pelajar sekarang ini masih minim pengetahuan terkait dengan realitas perpolitikan di sekitarnya. Padahal, status sebagai pelajar tidak semestinya menjauhkan mereka dari hiruk pikuk dan dinamika demokrasi.

Entah berawal darimana dan disebabkan oleh apa, pelajar masa kini lebih enjoy belajar tekstual, belajar dari buku ke buku, dari teori ke teori. Sebaliknya, dengan pengetahuan yang sifatnya empiric jarang mereka dekati, bahkan yang lebih memprihatinkan mereka acuh terhadap kondisi sekitarnya. Hal ini berbeda jauh dengan kebiasaan pelajar di luar negeri.

Di Korea misalnya, belum lama ini diberitakan tentang unjuk rasa pelajar tingkat menengah sebagai akibat kebijakan pemerintah yang hendak import daging dari amerika, yang disinyalir masih belum terbebas dari antraks. Ribuan pelajar berdemonstrasi didampingi para guru. Demonstrasi adalah bagian kecil dari bunga-bunga demokrasi, demikian kata salah satu juru bicara kepresidenan, Andi Malarangeng. Namun tetap saja ia menjadi penting sebagai fungsi kontrol kebijakan pemerintah yang dirasa menyimpang. Pelajar di Indonesia, semestinya dapat mencontoh pelajar Korea yang sadar diri sebagai bagian dari masyarakat. Pelajar Korea mengetahui resiko yang bakal dihadapi oleh masyarakat ketika impor daging sapi tersebut benar-benar dilakukan pemerintahnya.

Untuk bisa peka terhadap kenyataan yang ada, para pelajar harus sadar memahami tentang posisinya sebagai salah satu pilar demokrasi. Berbicara demokrasi berarti berbicara partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. Berbicara tentang pemerintahan berarti berbicara tentang regulasi kebijakan yang diabil. Dari rangkaian tersebut, pelajar harus tahu dan mampu memposisikan diri. Agar bisa tahu tentang issue demokrasi, issue kemasyarakatan dan pemerintahan, , pelajar harus “dekat” dengan semuanya.

B. Alur Kegiatan
Berikut petikan kegiatan Wisata Parlemen yang dilaksanakan pada hari terkahir dari rangkaian kegiatan sekolah demokrasi yang secara keseluruhan diarahkan untuk mendekatkan siswa pada “dunia” yang barangkali masih asing mereka temui, yakni pemerintah.

Peserta kegiatan wisata parlemen berangkat dari gedung Dinas Sosial Jawa Timur jam 10.00 dengan mengendarai bus besar dan tiba di gedung DPRD kurang lebih jam 11.00. Sesaat setelah sampai di gedung DPRD Jatim, para peserta diterima di ruang rapat dan di temui beberapa anggota dewan.  Para peserta tidak menyempatkan kesempatan itu, mereka akhirnya berdialog, berdiskusi secara langsung dengan psrs waskil rakyat seputar kegiatan pemerintahan dan tanggungjawab pelayanan pemerintah kepada masyarakat, tak terkecuali, peserta juga berdiskusi seputar Pilkada dan demokrasi di jawa timur.

Selanjutnya, peserta dibawa masuk ke ruang persidangan. Ketepatan pada saat itu anggota DPRD sedang rapat paripurna. Mereka mengamati dengan cermat jalannya persidangan. Di tengah-tengah sidang, peserta merasa terkejut saat melihat proses persidangan berlangsung. Para wakil rakyat yang bagi mereka adalah orang cerdik sendekia, berjiwa besar dan perhatian terhadap permasalahan pemerintah ternyata jauh dari itu semua. Rapat paripurna yang mereka bayangkan akan membicarakan masalah rakyat yang sedang menghadapi situasi pelik akibat kenaikan harga BBM, ternyata tidak. Yang tampak di depan mereka adalah, dewan wakil rakyat sedang terlibat dalam debat kusir, masing-masing saling ngotot mempertahankan pendapatnya. Sidang paripurna berjalan panas. meja siding digebrak-gebrak, pekikan suara keras keluar dari anggota dewan, sampai-sampai hampir terjadi adu jotos dalam persidangan tersebut. Ruang sidang tak ubahnya medan tinju.

Kurang lebih dua jam lamanya peserta sekolah demokrasi mengamati jalannya persidangan yang penuh ketegangan. Ada yang merasa biasa, karena polah anggota dewan yang demikian sudah sering diberitakan, di TV dan di media cetak. Ada sebagian lagi merasa aneh sekaligus prihatin, karena mereka beranggapan anggota dewan adalah golongan terhormat, selain berkuasa, mereka juga kumpulan cerdik-cendekia, agamawan dan pengusaha yang rata-rata berpendidikan tinggi tetapi, cermin kedewasaan berpolitk atau sebagai wakil rakyat yang baik ternyata tidak ada. Para dewan berbicara lebih didasarkan pada egoisme. Tepat jam 14.00 rangkaian kegiatan wisata parlemen berakhir. Peserta mendapatkan pengalaman berharga. Ada hal menarik yang dapat kami simpulkan dari kegiatan tersebut. Pertama, kegiatan wisata parlemen benar-benar dapat mendekatkan peserta pada pengetahuannya tentang dinamika pemerintahan.

Ke dua, mereka mendapatkan pemahaman bahwa mewujudkan demokrasi tidaklah mudah, banyak prasyarat yang harus dipenuhi, demikian pula banyak tantangan yang dihadapi. Ke tiga, kegiatan wisata parlemen dapat menjadi pintu awal menggugah kepekaan peserta tagar bisa lebih partisipatif dengan kegiatan kemasyarakatan. Ke empat, kegiatan wisata parlemen menjadikan peserta tahu dengan sesungguhnya perilaku politik wakil rakyat, tidak hanya dari media dan televisi, tetapi mereka live mengamatinya. Dari kesemuanya, peserta bersepakat untuk ambil bagian sebagai pilar demokrasi. Kelak, mereka akan mampu menumbuhkan perilaku politik yang menjadi tujuan bersama, yaitu demokratis dan memihak kepentingan masyarakat.

Demikian progress report kegiatan sekolah demokrasi dan wisata parlemen yang diselenggarakan oleh INSPEKD Jawa Timur. Harapannya, semoga semua pihak tetap dapat bekerjasama mewujudkan masyarkat yang adil, sejatera, aman dan tenteram. Semuanya hanya akan terwujud bila ada proses demokrasi yang berkualitas. Akhirnya, kepada para peserta sekolah demokrasi dan wisata parlemen diharapkan dapat menerapkan prinsip demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Ingat, “Demokrasi itu tidak dilahirkan, tidak diwariskan. Ia harus dipelajari sepanjang hayat oleh semua orang, mulai dari kecil sampai presiden,..!!!

Tinggalkan sebuah tanggapan